Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2010

" Yesus itu kaya atau miskin (2)"

KOMPAS.com — BEBERAPA pengkhotbah injil kemakmuran menarik kesimpulan yang berbeda dari teks Injil yang sama. Tom Brown, pendeta dari Gereja Word of Life, El Paso, AS, mengatakan, dirinya tidak mengatakan Yesus kaya karena ingin memberi alasan bagi orang untuk menjalani hidup yang memanjakan diri. Brown ingin orang mengerti bahwa Yesus menggunakan kekayaan materi dan spiritual untuk menolong orang lain, demikian juga yang seharusnya dilakukan para pengikut-Nya.

Brown mengatakan, kata-kata yang diucapkan Yesus sendiri membuktikan bahwa Dia bukanlah orang miskin. "Yesus berkata bahwa akan selalu ada orang miskin di sekitarmu, namun Aku tidak akan selamanya besertamu," kata Brown. "Yesus tidak meletakkan diri dalam kelompok orang miskin...." "Saya percaya Ia adalah orang terkaya di muka bumi karena Tuhan adalah sumbernya," tambah Brown.

Sejumlah pendeta berpendapat, kekayaan Yesus amat jelas dalam Injil, bahkan pada bagian penyalibannya. Injil Perjanjian Baru bercerita, beberapa prajurit Romawi mengundi jubah Yesus sementara ia bergantung di salib. Menurut C Thomas Anderson dari Gereja Living Word Bible Church, mereka takkan mengundi pakaian Yesus bila itu tidak mahal. "Saya tidak mengenal seorang pun, bahkan Pamela Anderson, hingga orang sampai mengundi pakaian yang dikenakannya," kata Anderson. "Itu pastilah barang bagus yang ia kenakan."

Anderson mengatakan, Yesus tidak mungkin bisa memiliki murid-murid atau banyak pengikut jika Dia miskin. Dia tidak mungkin bisa mendapatkan rasa hormat dari mereka. "Yang miskin akan mengikuti yang kaya, yang kaya mengikuti yang kaya, tapi yang kaya tidak pernah mengikuti yang miskin," kata Anderson.

Membelokkan Injil demi keuntungan pribadi?
Luke Timothy Johnson, seorang profesor di Universitas Perjanjian Baru Emory, menyebut pendapat Anderson sangat tidak logis. "Jadi Martin Luther King dulu pasti seorang miliuner," katanya. "Orang banyak mengikuti Siddhartha Buddha dan dia seorang miskin. Demi Tuhan, rakyat jelata mengikuti Mahatma Gandhi, dan Gandhi mengenakan cawat."

"Pendapat bahwa Yesus kaya karena para tentara mengundi untuk mendapatkan jubah-Nya saat Dia disalibkan juga sama tidak masuk akalnya secara historis," kata Johnson, pengarang buku Di Antara Orang Kafir: Agama Yunani-Romawi dan Kristianitas (Among the Gentiles: Greco-Roman Religion and Christianity)."

"Penyaliban merupakan bentuk eksekusi yang dilakukan terhadap para budak dan pemberontak," tambah Johnson. "Itu bukan sebuah eksekusi untuk orang kaya."

Seorang profesor agama di Universitas Baylor yang merupakan seorang spesialis dalam studi tentang kemiskinan pada zaman Yunani-Romawi juga mengatakan, tidak mungkin Yesus dapat dinilai sebagai orang kaya. Bruce W Longenecker mengatakan, kehidupan pada zaman Yesus itu brutal. Sekitar 90 persen penduduk hidup miskin. Sebuah bencana kelaparan atau panen yang buruk dapat menghancurkan sebuah keluarga. Tidak ada kelas menengah.

"Pada dunia masa itu, Anda menjadi relatif miskin atau sangat kaya, hanya ada sedikit yang berada di antara," kata Longenecker, penulis buku Engaging Economics: New Testament Scenarios and Early Christian Reception.

"Injil Perjanjian Baru penuh dengan perumpamaan yang berisi kritikan Yesus kepada orang kaya dan pujian-Nya kepada orang miskin," kata Longenecker. Dalam bab enam Injil Lukas, kata Longeneker, Yesus mengutuk orang kaya. "Satu-satunya cara Anda untuk dapat menggolongkan Yesus sebagai orang kaya adalah membela penafsiran yang menyimpang dan menjadi sepenuhnya naif secara historis," tegas Longenecker.

Anderson, pendeta Arizona itu, tidak menerima pendapat itu. Dia mengatakan, gereja sudah sangat dirusakkan oleh ajaran bahwa Yesus itu miskin. Menurut dia, Tuhan menginginkan para pengikutnya menjadi kaya, bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk membantu sesama yang membutuhkan dan menyebarkan Injil.

Ketika pertama kali mengkhotbahkan di gerejanya bahwa Yesus tidak miskin, Anderson mengatakan, dia "menggelisahkan sejumlah orang". Sekarang, katanya, gerejanya mempunyai 9.000 jemaat dan sebuah pelayanan global. "Sangat memilukan, untuk mengatakan bahwa Yesus berjuang sendirian dalam debu dan lumpur," kata Anderson. "Hal itu sangat tidak masuk akal. Dia tetap seorang kaya." (Tamat)

Bookmark and Share

" Yesus itu kaya atau miskin (1)"

KOMPAS.com — SETIAP masa Natal tiba, orang Kristen mengisahkan tentang bayi Yesus yang miskin yang lahir di atas sebuah palungan nista di kandang hewan karena tidak mendapat kamar di tempat penginapan. Namun, Pendeta C Thomas Anderson, pendeta senior dari Gereja Living Word Bible Church di Mesa, Arizona, Amerika Serikat (AS), mengkhotbahkan sebuah versi lain tentang Natal, yaitu bahwa (bayi) Yesus sesungguhnya sama sekali tidak miskin.

Anderson mengatakan, Yesus tidak mungkin miskin karena dia menerima hadiah-hadiah yang menguntungkan, seperti emas, kemenyan, dan dupa, saat lahir. Yesus pastilah orang kaya karena para tentara Romawi yang menyalibkan dia saja sampai mengundi untuk mendapatkan jubahnya yang tentu mahal. Bahkan orangtua Yesus, Maria dan Yosep, menurut dia, hidup dan bepergian dengan penuh gaya.

"Maria dan Yosep (bagaikan) menggunakan sebuah Cadillac untuk pergi ke Bethlehem karena alat transportasi terbaik pada masa mereka adalah seekor keledai," kata Anderson. "Orang miskin, jika punya keledai, akan membunuh dan memakan keledai mereka. Hanya orang kaya yang menggunakan keledai sebagai alat transportasi." Berdasarkan Injil, Maria  yang hamil tua menunggang keledai ketika bepergian dari Nazarett, tempat tinggal Maria dan Yosep, ke Bethlehem untuk mengikuti cacah jiwa.

Banyak orang Kristen melihat Yesus sebagai orang miskin, pengkhotbah keliling yang "tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya". CNN, akhir pekan lalu, melaporkan, saat umumnya orang Kristen di seluruh dunia tahun ini merayakan kelahiran Yesus (dengan gambaran Yesus yang miskin), sekelompok orang Kristen yang lain menegaskan bahwa pada awal masa hidupnya Yesus bukan berasal dari keluarga sederhana.

Mereka mengatakan, Yesus tidak pernah miskin, dan mestinya demikian juga dengan para pengikutnya. Klaim mereka didasarkan pada doktrin yang dikenal sebagai injil (kabar baik tentang) kemakmuran, yang menyatakan bahwa Tuhan mengganjar orang yang percaya dengan kemakmuran keuangan dan anugerah spiritual.

Kontroversial?
Injil kemakuran itu telah menuai banyak kecaman. Namun, pengkhotbah Evengelist yang populer di televisi AS, seperti Oral Roberts, Kenneth Hagin, dan saat ini, Creflo Dollar, telah membangun jemaat besar dan pendengar global dengan menyamakan kesalehan dengan kemakmuran.

Injil kemakmuran, bagaimanapun, bertentangan dengan gambaran tradisional tentang Yesus sebagai orang miskin. Menurut Pendeta Tom Brown, pendeta senior dari Gereja Word of Life di El Paso, Texas, itu disebabkan oleh gambaran tradisional yang salah yang menyatakan Yesus sebagai orang miskin. "Saya percaya Ia adalah orang terkaya di muka bumi karena Ia memiliki Tuhan sebagai sumber."

Buktinya, menurut dia, tersebar di semua Injil Perjanjian Baru. Sebagai contoh, Injil Yohanes Bab 12 mengatakan, Yesus memiliki bendahara, atau seorang "penjaga kantong uang." "Terakhir kali saya memeriksa, orang miskin tidak punya bendahara untuk menjaga uang mereka," kata Brown, pengarang buku Setan, Iblis dan Perang Spiritual.

Debat atas status ekonomi Yesus mungkin tampak tidak masuk akal bagi sebagian orang. Memangnya menjadi masalah Yesus itu miskin atau kaya?

Bagi orang seperti Luke Timothy Johnson, seorang pengajar dan sarjana Perjanjian Baru yang terkenal, hal itu penting. Ia menyatakan, Yesus yang kaya merupakan sebuah pembelokan sejarah dan sebuah ancaman terhadap inti ajaran Kristen: Pengidentifikasian Tuhan dengan kaum miskin. "Jika Yesus menyingkapkan Tuhan, maka ada sesuatu yang berkuasa tentang Tuhan yang tampak dan bekerja di kalangan orang miskin," kata Johnson, seorang profesor Perjanjian Baru di Sekolah Teologi Candler, Universitas Emory di Atlanta, Georgia.

"Gaya hidup Yesus bukanlah gaya hidup dalam komunitas eksklusif atau sebuah korporasi," kata Johnson, mantan biarawan Benediktin. "Anda tidak harus melalui sebuah pagar pengamanan hanya untuk mendekati Yesus. Orang-orang menyentuhnya. Ia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh anak-anak. Aksesibilitas-Nya merupakan salah satu pesan yang paling kuat dalam kekristenan. Dalam Yesus, Tuhan berada bersama kita, dan mayoritas kita adalah orang miskin."Bookmark and Share